MIRANDA
Perasan gelisah
mulai menghantui pikiran Miranda perlahan-lahan keringat dingin mulai
bercucuran membasahi sekujur tubuhnya,perasaan Miranda mulai memuncak takkala
seorang wanita seragam putih menghampirinya seraya menyebut namanya,kini ia
telah berbaring disebuah tempat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya,tmpat
dimana tak satupun orang mengharapkanya,saat alat-alat mulai dipasangkan
ditubuhnya Miranda mulai pasrah dan berdoa seakan maut sebentar lagi
menjemputnya,kini ia telah memasuki sebuah ruangan yang akan menentukan
hidupnya,pandangan Miranda mulai redup tubuhnya mati rasa matanya
terkantuk-kantuk dan kini ia telah tertidur.7 jam telah berlalu setalah
peristiwa itu rasa syukur dan gembira diraskan Miranda saat penentuan hidupnya
telah ia lewati yang ia rasakan saat ini hanyalah lelah diseluruh tubuhnya.
“bagaimana
sekarang perasaan ibu?”
“alhamdulillah
saya sudah merasa lebih baik dari sebelumnya”
“syukurlahlah,kalau
ada apa-apa silahkan ibu memencet tombol di samping kiri tempat tidur ibu”
“iya,terima
kasih suster”
Miranda tak
pernah menyangka ia akan berakhir di sebuah rumah sakit,ternyata selama ini ia mengidap
penyakit leukimia,ia baru mengetahui penyakitnya saat ia pingsan di kantornya,perlu
waktu yang cukup lama agar penyakit Miranda benar-benar sembuh kini ia menjalani
hari-harinya di sebuah rumah sakit tanpa sanak saudaranya,ia tak pernah tahu
hal itu akan terjadi, perasaan ragu
sekaligus khawatir menyampaikan kabar buruk ini kepada keluarganya membuat
Miranda bungkam tentang penyakitnya,keluarga Miranda juga jauh di luar kota.Setelah
satu tahun lima bulan penantian cukup panjang yang membuahkan hasil Miranda
meninggalkan rumah sakit kini penyakitnya telah sembuh total perasaan gembira
amat sangat dirasakanya,udara segar yang tidak bisa dirasakanya selama ini
kembali ia rasakan.
“selamat bu atas
kesembuhanya,semoga ibu selalu sehat dan membimbing kami karna tanpa ibu
perusahaan tak bisa maju”
“iya terima
kasih atas doa dan kepercayaanya selama ini”
“sama-sama
bu,mohon kerjasamanya”
Miranda
merupakan sesosok yang dihormati di kantornya sebagai seorang Direktur dari
perusahan,selama ia dirawat di rumah sakit ia memercayakan urusan perusahaan
kepada sekretaris kepercayaanya yang selama ini mengabdikan dirinya untuk
bekerja kepada Miranda.Setelah mengalami pengalaman antara hidup dan mati
Miranda mulai sangat berhati-hati menjaga pola hidupnya seakan menjadi
perhiasan berharga ia menjaga kesehatanya lebih dibandingkan dulu,Miranda dulu
telah berganti dengan Miranda yang baru itulah ungkapan dalam hatinya seakan
tak ingin jatuh ke lubang yang sama Miranda lebih berhati-hati dalam hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar