Label

Kamis, 04 Februari 2016

MIRANDA
Perasan gelisah mulai menghantui pikiran Miranda perlahan-lahan keringat dingin mulai bercucuran membasahi sekujur tubuhnya,perasaan Miranda mulai memuncak takkala seorang wanita seragam putih menghampirinya seraya menyebut namanya,kini ia telah berbaring disebuah tempat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya,tmpat dimana tak satupun orang mengharapkanya,saat alat-alat mulai dipasangkan ditubuhnya Miranda mulai pasrah dan berdoa seakan maut sebentar lagi menjemputnya,kini ia telah memasuki sebuah ruangan yang akan menentukan hidupnya,pandangan Miranda mulai redup tubuhnya mati rasa matanya terkantuk-kantuk dan kini ia telah tertidur.7 jam telah berlalu setalah peristiwa itu rasa syukur dan gembira diraskan Miranda saat penentuan hidupnya telah ia lewati yang ia rasakan saat ini hanyalah lelah diseluruh tubuhnya.
“bagaimana sekarang perasaan ibu?”
“alhamdulillah saya sudah merasa lebih baik dari sebelumnya”
“syukurlahlah,kalau ada apa-apa silahkan ibu memencet tombol di samping kiri tempat tidur ibu”
“iya,terima kasih suster”
Miranda tak pernah menyangka ia akan berakhir di sebuah rumah sakit,ternyata selama ini ia mengidap penyakit leukimia,ia baru mengetahui penyakitnya saat ia pingsan di kantornya,perlu waktu yang cukup lama agar penyakit Miranda benar-benar sembuh kini ia menjalani hari-harinya di sebuah rumah sakit tanpa sanak saudaranya,ia tak pernah tahu hal itu  akan terjadi, perasaan ragu sekaligus khawatir menyampaikan kabar buruk ini kepada keluarganya membuat Miranda bungkam tentang penyakitnya,keluarga Miranda juga jauh di luar kota.Setelah satu tahun lima bulan penantian cukup panjang yang membuahkan hasil Miranda meninggalkan rumah sakit kini penyakitnya telah sembuh total perasaan gembira amat sangat dirasakanya,udara segar yang tidak bisa dirasakanya selama ini kembali ia rasakan.
“selamat bu atas kesembuhanya,semoga ibu selalu sehat dan membimbing kami karna tanpa ibu perusahaan tak bisa maju”
“iya terima kasih atas doa dan kepercayaanya selama ini”
“sama-sama bu,mohon kerjasamanya”

Miranda merupakan sesosok yang dihormati di kantornya sebagai seorang Direktur dari perusahan,selama ia dirawat di rumah sakit ia memercayakan urusan perusahaan kepada sekretaris kepercayaanya yang selama ini mengabdikan dirinya untuk bekerja kepada Miranda.Setelah mengalami pengalaman antara hidup dan mati Miranda mulai sangat berhati-hati menjaga pola hidupnya seakan menjadi perhiasan berharga ia menjaga kesehatanya lebih dibandingkan dulu,Miranda dulu telah berganti dengan Miranda yang baru itulah ungkapan dalam hatinya seakan tak ingin jatuh ke lubang yang sama Miranda lebih berhati-hati dalam hidupnya.

Tidak ada komentar: