Label

Kamis, 04 Februari 2016

SETETES KERINGAT AYAH
Suara burung  gagak yang merajai malam hilang berganti dengan suara azan subuh yang berkumandang percik-percik air dari keran tua mulai terdengar olehku ,samar-samar kulihat seorang sedang membasuh wajahnya,pakaian yang mulai lusuh dikenakankanya ia berjalan menuju mesjid tak jauh dari rumahku itulah ayahku,melihat ayah  aku merasa bangga dalam keaadaan apapun ia  tidak pernah lupa akan kewajibanya
            “Ranti kau sudah salat nak?” tanya bapak padaku dengan suara lembut
            “sudah yah”
            “alhamdulillah,bapak mau ke sawah dulu tolong jaga baik-baik adikmu”
            “iya yah,hati-hati dijalan”
            “ayah  berangkat,assalamualaikum”
            “walaikumsalam”
Sepeda tua milik bapak menjadi saksi kerja kerasnya selama ini  untuk memberi sesuap nasi kepada kami,bau semerbak tanah yang masih basah oleh hujan diiringi kicauan burung yang berlomba melantungkan suara kicauan merdu,aku bergegas menuju kamar membangunkan adikku,di gubuk tua ini kami hidup sederhana aku,ayah,dan seorang adik perempuanku,ibuku telah lama meninggal karna penyakit yang dideritanya masalah ekonomi yang membuat bapak tidak membawanya ke rumah sakit
            “kak aku lapar” sambil menarik-narik bajuku
            “sebentar dik,tunggu sebentar ayah sedang mencari makan untuk kita sabar ya dik”sambil membelai lembut rambut adekku yang manis
Allah memang maha melihat dan maha mengetahui rezeki itu datangnya dari mana saja salah seorang tetanggaku datang membawa makanan untuk kami,senang rasanya hatiku melihat adikku  menyantap makanan yang sederhana itu dengan lahapnya sampai air mataku menetes teringat ayah diluar sana apakah ia  sudah makan atau belum,selesai makan aku menitipkan adikku di rumah tetangga,siang hari aku harus bekerja disalah satu pabrik kapas,gaji yang kuperoleh cukup aku tabung untuk menyekolahkan adikku ketika ia dewasa kelak
            “Ranti mulai besok kamu tidak usah datang kesini lagi”
            “ada apa pak?apa kerjaku kurang baik selama ini?”
            “bukan begitu Ranti,perusahaan ini sebentar lagi akan tutup,ini gaji kamu” sambil memberi sebuah  amplop
Hari itu menjadi hari terahir aku bekerja,bibit harapan yang aku tanam, kini telah hilang,aku
pulang membawa amplop yang berisikan beberapa lembar uang upah gajiku bulan ini.Raja siang telah kembali ke tempat peristirahatanya berganti dengan raja malam,aku melihat ayahku perlahan dari kejauhan mulai menghampiri aku dan adikku
            “ayah..ayah...”adikku mulai berteriak melambaikan tangannya senyum manis penuh cinta tampak dari bibir mungilnya
            “assalamualaikum”
            “walaikumsalam”
            “ayo masuk nak,ini  ayah  bawa sedikit makanan untuk kita”
            “hore.. hore.. makan-makan”
Kami menikmati makanan sederhana hasil jerih payah ayahku hari ini,hasil dari tetes-tetes keringat yang tak ada habisnya memberikan kami cinta dan kasih sayangnya, diterangi lilin yang mulai meredup serta suara jangrik yang bernyanyi ria mengisi kesunyian malam.
                                                                 ***
Siang itu perasaan risau mulai menghantui hatiku entah mengapa tiba-tiba dibenakku terlintas ayah,tak lama kemudian
            “Ranti..ayahmu..ayahmu..”
            “ada apa bang ujang?” perasaanku mulai tak tenang
            “kamu ikut aku saja cepat”
perasaanku gundahku tibalah puncaknya,kakiku mulai lemas dan kepalaku mulai pusing ,aku menyaksikan ayahku tergeletak di pematang sawah
            “kenapa kalian tidak menolong ayahku?”aku mulai histeris memandangi orang yang bergerumur itu
            “maaf,Ranti kata orang ayah  kamu ini terkena penyakit yang menular jadi kami tak berani”
untunglah pak RT segera datang memanggil bantuan,ayahku segera dilarikan ke rumah sakit dengan harapan bisa terselamatkan,sementara itu aku tidak langsung mengantar ayah  ke rumah sakit,aku pulang untuk membawa adikku dan membawa beberapa pakain.Beberapa jam kemudian ayahku mulai sadarkan diri aku merasaksan hembusan nafasnya yang berat ia melirukku
            “Ranti,mana adikmu nak?”
            “dia ada diluar yah bersama bu mimin,gimana keadaan ayah?”
            “ayah baik-baik saja cuma tubuh ayah yang sedikit lemas”

            “alhamdulillah yah, semoga ayah  segera sembuh”
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit kini ayahku telah sembuh tapi ia takkan diperbolehkan bekerja keras seperti dulu lagi,mau tak mau akulah yang mencari nafkah menggantikan peran ayah,aku merantau ke kota dengan bekal ijazah sma yang aku punya,aku pergi meninggalkan ayah  dan juga adikku di kampung,setelah berpamitan dengan ayah  aku melangkahkan kakiku menuju dunia baru yang tak berpenghjung,sampailah aku di kota tak seorangpun aku kenal begitupun sebaliknya,mataku mulai membelalak melihat gedung-gedung pencakar langit.
                                                                      ***
Setelah beberapa tahun di kota aku memperoleh pengahasilan yang mampu membiayai adikku bersekolah,aku memutuskan untuk pulang kampung,perasaan senang ingin berjumpa serta rasa rinduku kepada ayah  dan juga adikku tak terbendungi lagi,nasib ya nasib aku menyaksikan gerumunan orang di depan rumahku,kain kuning pertanda duka rasa bahagia kini berganti duka langit seakan ingin runtuh hatiku bagaikan ditusuk oleh pedang aku tak sanggup lagi pikiranku kosong badanku lemas dan tak kuasa memopong badanku lagi,
            “Ranti sabar nak” aku tersadar meskipum kepalaku masih terasa pusing akku beranjak dari tempat tidur menghampiri ayah  yang terbaring tak bernyawa
“ayah..ayah.. aku pulang pak,kenapa ayah  pergi tanpa pamit dulu kenapa yah”air mataku tak terbendungi lagi aku memuluk ayah  untuk yang terakhir kalinya “maafkan aku yah”
Aku dan adikku mengantar ayah  ke peristrahatan terakhirnya,aku mencoba untuk tabah dan ikhlas menghadapi cobaan ini aku yakin Yang Maha Kuasa punya rencana yang lebih baik
sepeninggal bapak aku menjadi anak yatim piatu bersama adikku kenangan akan bapak masih sangat teringat dibenakku mendengar cerita dari tetangga meskipun bapak sakit ia tetap bekerja keras sampai nafas terakhirnya untuk kami berdua.
Beberapa tahun kemudian aku telah menikah dengan seorang yang aku kenal sewaktu aku di kota dulu pria yang mapan dan menyayangiku,aku memutuskan untuk tinggal di kota bersama dengan suamiku dan juga adikku keluargaku satu-satunya,hidup kami lebih baik berkecukupan bahkan lebih,adikkupum sekarang beranjak remaja dia cukup pintar di sekolahnya,beberapa tahun membina rumah tangga aku dikarunia seorang malaikat kecil yang cantik,bersama dengan suami,adik,dan juga malaikut kecilku kami berziarah ke makam bapak dan juga ibu sambil memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa.

Tidak ada komentar: